Pengemis Jalan Dadakan
sering terinjak tapi kau seperti belukar
sering terlihat tapi kau seperti pandai bertipu muslihat
banyak duri-duri kecil yang akan menusuk
banyak duri-duri nakal yang akan kita jejal
bau rupamu tak sebanding dengan ceritamu
yang katanya kau dimiliki dewa-dewa singgasana
dewa yang duduk di kursi jabatan
jabatan yang katanya banyak dinaungi setan
debu masih beterbangan--hingga kini--,
lubang-lubang besar masih menganga
kendaraan-kendaraan yang menunggangi kebahagiaan
berhamburan lalu lalang bagai setrika mondar-mandir
"sedekah, Bu" ucap pengemis dadakan yang menyiram jalan agar tidak Ngebul
sambil tertawa terbahak-bahak karena dapat uang lebih ke kantongnya
"kaya orang gila, jalanan koq disiram emangnya jalanan itu pohon hah?"
ungkap pengendara yang melintas
katanya iya; jalanan rusak adalah lahan keberkahan
dari pada memaksa meminta bertingkah seperti preman
daripada luntang-lantung gak dapat kerjaan
ucapnya lantang sambil memikul air siraman di tangan.
Jumat, 02 Mei 2014
21.43
21.24
Pagi Akhir Pekan
Pagi Akhir Pekan
mentari sudah mulai beranjak naik ke perantauannya
sedangkan aku masih tiduran pada sepi hari
panas yang biasa aku rasakan tentang udara;
sudah menjadi hal yang sangat biasa
aku berangsur bangun dari tempat tidur
dengan mata yang masih ngantuk dan silau cahaya yang semakin terang
aku paksakan diri
ku ambil sehelai kain mandi
tiba-tiba aku ingat sebuah catatan-catatan kecil di komputer jinjingku
aku sendiri kaget kenapa aku sekarang sering menulis
biasanya hanya membaca
atau hanya sekadar ngopi ngopi di ruang tamu ketika pagi
atau mungkin kejenuhan; ya, mungkin kejenuhan yang membuat aku seperti ini
terlebih sudah lama aku tak memiliki kekasih yang aku harapkan
tawa kecil kulemparkan pada jemari yang seperti menari-nari tanpa kusuruh
seperti terhipnotis pada waktu dan waktu yang tak pernah bersatu dengan maksudku.
jari-jari kecilku; aku berterimakasih padamu; pada waktu yang telah menjadikanmuhebat
menjadikanmu seperti pahlawan-pahlawan bambu runcing
yang walaupun hanya memiliki andil kecil, namun kau bersama-sama menindak
dibanding jari telunjuk saja yang kau gerakan pada sebilah senjata yang kau sebut 'mos'
mentari sudah mulai beranjak naik ke perantauannya
sedangkan aku masih tiduran pada sepi hari
panas yang biasa aku rasakan tentang udara;
sudah menjadi hal yang sangat biasa
aku berangsur bangun dari tempat tidur
dengan mata yang masih ngantuk dan silau cahaya yang semakin terang
aku paksakan diri
ku ambil sehelai kain mandi
tiba-tiba aku ingat sebuah catatan-catatan kecil di komputer jinjingku
aku sendiri kaget kenapa aku sekarang sering menulis
biasanya hanya membaca
atau hanya sekadar ngopi ngopi di ruang tamu ketika pagi
atau mungkin kejenuhan; ya, mungkin kejenuhan yang membuat aku seperti ini
terlebih sudah lama aku tak memiliki kekasih yang aku harapkan
tawa kecil kulemparkan pada jemari yang seperti menari-nari tanpa kusuruh
seperti terhipnotis pada waktu dan waktu yang tak pernah bersatu dengan maksudku.
jari-jari kecilku; aku berterimakasih padamu; pada waktu yang telah menjadikanmuhebat
menjadikanmu seperti pahlawan-pahlawan bambu runcing
yang walaupun hanya memiliki andil kecil, namun kau bersama-sama menindak
dibanding jari telunjuk saja yang kau gerakan pada sebilah senjata yang kau sebut 'mos'
11.49
Sajak Sebatang Rokok
Sajak Sebatang Rokok
waktu hampir menenggelamkan malam
jam pun hampir menunjukan angka-angka angsa
di balik ingar bingarnya sepi
kutemukan sebatang rokok tergeletak di meja tempat biasa aku menulis
aku meliriknya
aku menatapnya dengan penuh sunyi
pada dinding sepi, aku bertanya
apakah dia kesepian, tanyaku
lalu aku ingat cerita buku-buku tanpa judul
yang aku baca tadi sore
tentang kesepian-kesepian dalam sebuah penantian
ya, barangkali seperti itu rokok yang tergeletak di meja tulisku
aku memegangnya, sambil aku mencium harumnya
harumnya masi segar, karena belum lama aku tinggalkan
pada malam yang lalu dia ditinggal sendiri
entah itu teman, sahabat, ataupun kekasihnya telah aku bakar
kuduga jika dia manusia sepertiku, dia menangis karena kesepian
atau kedinginan karena tubuhnya rindu dinyalakan pemantik
atau dia ingin temani lagi bersama teman yang baru
lalu, kuputuskan kubakar saja bersama lamunanku.
waktu hampir menenggelamkan malam
jam pun hampir menunjukan angka-angka angsa
di balik ingar bingarnya sepi
kutemukan sebatang rokok tergeletak di meja tempat biasa aku menulis
aku meliriknya
aku menatapnya dengan penuh sunyi
pada dinding sepi, aku bertanya
apakah dia kesepian, tanyaku
lalu aku ingat cerita buku-buku tanpa judul
yang aku baca tadi sore
tentang kesepian-kesepian dalam sebuah penantian
ya, barangkali seperti itu rokok yang tergeletak di meja tulisku
aku memegangnya, sambil aku mencium harumnya
harumnya masi segar, karena belum lama aku tinggalkan
pada malam yang lalu dia ditinggal sendiri
entah itu teman, sahabat, ataupun kekasihnya telah aku bakar
kuduga jika dia manusia sepertiku, dia menangis karena kesepian
atau kedinginan karena tubuhnya rindu dinyalakan pemantik
atau dia ingin temani lagi bersama teman yang baru
lalu, kuputuskan kubakar saja bersama lamunanku.
10.57
Seni Badud
| Seni Badud |
Seni Badud - Menurut narasumber di lapangan, seni Badud sudah ada sejak awal abad ke-20. Pada mulanya seni ini dipertunjukan untuk upacara yang berkaitan dengan aktivitas pertanian sebagai ungkapan rasa syukur atas keberhasilan dalam mengolah ladang pertanian tanpa adanya gangguan hama, sehingga mendapat hasil panen yang melimpah.
Dalam sejarah pementasannya, Badud dipergunakan untuk mengiringi orang-orang yang membawa hasil panennya dari ladang ke perkampungan tempat mereka tinggal. Setiba di perkampungan, rombongan badud disambut oleh Ronggeng Doger, dan saat malamnya diadakan pertunjukan, hiburan mamarung (sejenis tarian sosial berpasangan), tarian yang dilakukan oleh penari perempuan. Dari segi pengambilan anggota untuk seni badud yaitu dengan sistem turun temurun (seni turunan).
Sejak adanya perubahan sistem tanam padi, dari sekali dalam setahun menjadi dua atau tiga kali dalam satu tahun, fungsi Badud tidak lagi dipentaskan untuk mengiringi arak-arakan memikul hasil panen ladang ke perkampungan, melainkan dipentaskan untuk acara hajatan masyarakat, seperti perkawinan, khitanan, dan peringatan kemerdekaan republik Indonesia.
Demikian juga halnya dengan penyajiannya yang banyak mengalami perubahan. Menurut narasumber, atas inisiatif pimpinan seni Badud, pertunjukan Badud mengalami perubahan sejak tahun 1980, yang awalnya hanya bentuk menyajikan unsur musikal saja (Dogdog dan Angklung), kini ditambah dengan unsur teatrikal, seperti adanya Kera, Anjing Hutan, Babi, Lutung, dan Harimau. Hal ini didasari agar seni Badud tetap diminati oleh masyarakat setempat dan masyrakat yang berada dekat dengan lingkungan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)